Kamis, 27 Oktober 2011

BELALANG DALAM KOTAK




Seekor belalang lama terkurung dalam satu kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya.

Di perjalanan dia bertemu dengan belalang lain, namun dia heran mengapa belalang itu bisa lompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran dia bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?” Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan,

“Dimanakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan.”

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Sering kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman,tradisi, dan semua itu membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan potensi kita.

Sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada kita tanpa berpikir dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acap kali lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tahukah Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dgn tali yang terikat pada pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada “sesuatu” yang mengikat kaki nya, padahal “sesuatu” itu bisa jadi hanya seutas tali kecil…

Sebagai manusia kita mampu untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala aspirasi positif yang ingin kita capai. Sakit memang, lelah memang,tapi jika kita sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Pada dasarnya, kehidupan kita akan lebih baik kalau kita hidup dengan cara hidup pilihan kita sendiri, bukan dengan cara yang di pilihkan orang lain untuk kita. ***

Waspadai Video Mesum Ahmad Dhani-Dewi Persik



Waspadai jika memperoleh situs phishing yang menunjukkan foto Ahmad Dhani dan penyanyi Indonesia, Dewi Perssik dengan judul 'Video Mesum Ahmad Dhani yang Terekam Kamera CCTV'. Jika Anda mengklik bisa jadi akan menjadi korban phising.

Bulan Oktober 2011, Symantec, perusahaan menyedia keamanan, mengamati bahwa phisher menggunakan bintang rock Indonesia Ahmad Dhani untuk scam Facebook mereka. Dhani adalah pentolan band rock "Dewa 19" dan "Ahmad Band".

Dalam keterangan yang diterima, Kamis (25/10/2011), setelah pengguna memasukkan informasi login Facebook mereka, halaman phishing ini akan mengarahkan pengguna ke sebuah website porno dan phisher telah berhasil mencuri informasi pengguna tersebut untuk pencurian identitas.

Selebriti seringkali digunakan dalam serangan phishing. Sebelumnya, Symantec melihat Aishwarya Rai dan Katrina Kaif digunakan sebagai umpan phishing. Phisher memilih selebriti yang memiliki banyak penggemar karena dengan banyaknya penggemar, maka peluang lebih banyak pengguna yang tertipu semakin besar.


Peluang Bisnis Tiket Pesawat

Rabu, 12 Oktober 2011

DO'A IBLIS, MINTA PENSIUN DINI



Melihat kelakuan manusia, IBLIS pun stress. Iblis menyadari betapa beratnya beban mereka menghadapi manusia. Hingga IBLIS berdo'a kepada Tuhan, DO'A PENSIUN DINI.

"Hamba minta ampun ya Tuhan...
Amit-amit sekarang kelakuan manusia lebih parah, sudah melebihi iblis.
Malah kami bangsa Iblis makin khawatir, lama2 kami yang akan tergoda oleh manusia.
Makanya hamba minta pensiun dini aja deh...
Kami ga tahan, makan hati....
- Jaksa, hakim yg seharusnya jadi PENEGAK HUKUM, malah disuap si narapidana
- Pejabat yg seharusnya MENGAYOMI RAKYAT malah memeras, korupsi hak rakyat
- Para tokoh yg seharusnya DICONTOH, malah melakukan hal tercela
- Manusia BERZINA, yang enak dia, yang disalahkan iblis
- Manusia KORUPSI, dia yang menikmati, katanya digoda hamba.
- Manusia SELINGKUH, dia keenakan, katanya dipengaruhi hamba
- Manusia ke DISCOUTIQ & KARAOKEAN, di sana bernyanyi2 senggol sana sini dengan non muhrim, katanya disuruh hamba....
Padahal suer... hamba gak nyuruh, manusia sendiri yang kelewat laju berbuat dosa walaupun hamba gak goda mereka...

Ya Tuhan... pokoknya hamba pensiun dini aja....
Manusia kebangetan bener dech

*******************************
Ini sekedar anekdot, tapi bisa menjadi refleksi untuk kita semua.

Peluang Bisnis Tiket Pesawat

Jumat, 16 September 2011

KUNCI SUKSES "RAJA KAPAL" ARISTOTLE ONASSIS


Peluang Bisnis Tiket Pesawat
Tautan
  1. Jaga badanmu agar tetap sehat. Banggalah dengan fisik yang kita punya. Jangan risaukan hal-hal kecil, kita tidak sejelek seperti apa yang kita bayangkan.
  2. Jaga kulitmu agar tetap sehat. Karena kulit yang sehat akan tampak seperti orang yang banyak uang.
  3. Usahakan tersenyum, jangan suka cemberut. Perlihatkan bahwa segalanya beres. Dan, tunjukkan bahwa hidupmu sehari-hari selalu tampak menyenangkan.

Sabtu, 10 September 2011

IBUKU SEORANG PEMBOHONG


Peluang Bisnis Tiket Pesawat

Mungkin sulit bagi seseorang untuk percaya, tapi itulah kenyataannya. Ibu saya memang seorang pembohong!! Sepanjang ingatan saya sekurang-kurangnya 8 kali ibu membohongi saya. Semua kebohongan itu saya catat baik-baik agar menjadi bahan renungan semua anak yang lahir ke bumi.

Cerita ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai seorang anak lelaki dalam sebuah keluarga sederhana. Makan minum serba kekurangan. Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa makan ikan asin satu keluarga. Sebagai anak yang masih kecil, saya sering merengut. Saya menangis, ingin nasi dan lauk yang banyak. Tapi ibu pintar berbohong. Ketika makan, ibu sering membagikan nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata : ”Makanlah nak ibu tak lapar.” INILAH KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA.

Ketika saya mulai besar, ibu sering meluangkan waktu untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami. Pulang dari memancing, ibu memasak gulai ikan segar yang mengundang selera. Sewaktu saya memakan ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi. Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yg belum saya makan kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata : “Makanlah nak, ibu tidak suka makan ikan.” INILAH KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA.

Di awal remaja, saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang. Suatu saat, pada dinihari lebih kurang pukul 1.30 pagi saya terjaga dari tidur. Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin di hadapannya. Beberapa kali saya melihat kepala ibu terangguk karena ngantuk. Saya berkata : “Ibu, tidurlah, esok pagi ibu kan pergi ke kebun pula.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, ibu belum ngantuk.” INILAH KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA.

Di akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti biasa supaya dapat Tautanmenemani saya pergi ke sekolah untuk turut menyemangati. Ketika hari sudah siang, terik panas matahari mulai menyinari, ibu terus sabar menunggu saya di luar. Ibu seringkali saja tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada Illahi agar saya lulus ujian dengan cemerlang. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya. Kopi yang kental itu tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih kental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera memberikan cawan saya itu kepada ibu dan menyuruhnya minum. Tapi ibu cepat-cepat menolaknya dan berkata : “Minumlah nak, ibu tak haus!!” INILAH KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT.

Setelah ayah meninggal karena sakit, selepas saya baru beberapa bulan dilahirkan, ibulah yang mengambil tugas sebagai ayah kepada kami sekeluarga. Ibu bekerja memetik cengkeh di kebun, membuat sapu lidi dan menjual kue-kue agar kami tidak kelaparan. Tapi apalah daya seorang ibu. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah. Melihat keadaan keluarga yang semakin parah, seorang tetangga yang baik hati dan tinggal bersebelahan dengan kami, datang untuk membantu ibu. Anehnya, ibu menolak bantuan itu. Para tetangga sering kali menasihati ibu supaya menikah lagi agar ada seorang lelaki yang menjaga dan mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga. Tetapi ibu yang keras hatinya tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata : “Saya tidak perlu cinta dan saya tidak perlu laki-laki.” KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA.

Setelah kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudah tua. Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak lagi bersusah payah untuk mencari uang. Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakak dan abang yang bekerja jauh di kota besar sering mengirimkan uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malah ibu mengirim balik uang itu, dan ibu berkata : “Jangan susah-susah, ibu ada uang.” INILAH KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM



Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan lagi untuk mengejar gelar sarjana di luar negeri. Kebutuhan saya di sana dibiayai sepenuhnya oleh sebuah perusahaan besar. Gelar sarjana itu saya sudahi dengan cemerlang, kemudian saya pun bekerja dengan perusahaan yang telah membiayai sekolah saya di luar negeri. Dengan gaji yang agak lumayan, saya berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya bersama saya di luar negara. Menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, pantaslah kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan pula. Tetapi ibu yang baik hati, menolak ajakan saya. Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata ; “Tak usahlah nak, ibu tak bisa tinggal di negara orang. INILAH KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerima berita ibu diserang penyakit kanker di leher, yang akarnya telah menjalar kemana-mana. Ibu mesti dioperasi secepat mungkin. Saya yang ketika itu berada jauh diseberang samudera segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah sakit, setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap wajah saya dengan penuh kerinduan.

Ibu menghadiahkan saya sebuah senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya. Saya dapat melihat dengan jelas betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu, sehingga ibu menjadi terlalu lemah dan kurus. Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan air mata. Saya cium tangan ibu kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya. Di saat itu hati saya terlalu pedih, sakit sekali melihat ibu dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu tetap tersenyum dan berkata : “Jangan menangis nak, ibu tak sakit.” INILAH KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN

Setelah mengucapkan kebohongan yang kedelapan itu, ibunda tercinta menutup matanya untuk terakhir kali. Anda beruntung karena masih mempunyai ibu dan ayah. Anda boleh memeluk dan menciumnya. Kalau ibu anda jauh dari mata, anda boleh menelponnya sekarang, dan berkata, ‘Ibu,saya sayang ibu.’ Tapi tidak saya, hingga kini saya diburu rasa bersalah yang amat sangat karena biarpun saya mengasihi ibu lebih dari segala-galanya, tapi tidak pernah sekalipun saya membisikkan kata-kata itu ke telinga ibu, sampailah saat ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir.


(Disarikan dari Buku Kumpulan Kisah Nasihat "Surga di Depan Mata" karya Ustadz Naufal bin Muhammad Al-Aidarus)


BILA IBU BOLEH MEMILIH


Anakku…

Bila ibu boleh memilih

Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu

Maka ibu akan memilih mengandungmu?

Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah

Sembilan bulan nak…

engkau hidup di perut ibu

Engkau ikut kemanapun ibu pergi

Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan

Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman,

karena ibu kecewa dan berurai air mata

Anakku…

Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar,

atau ibu harus berjuang melahirkanmu

Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu

Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu

Adalah seperti menunggu antrian

memasuki salah satu pintu surga

Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan

Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua

Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,

Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia

Saat itulah… saat paling membahagiakan

Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,

Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan, Kalimat syahadat

kebesaran Allah dan penetapan hati

tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu


Anakku…

Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah,

atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,

Maka ibu memilih menyusuimu,

Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan

tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga

Merasakan kehangatan

bibir dan badanmu di dada ibu dalam kantuk ibu,

Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan


Anakku…

Bila ibu boleh memilih

duduk berlama-lama di ruang rapat

Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle

Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku…

Hidup memang pilihan…

Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana

Maka maafkanlah nak…

Maafkan ibu…

Maafkan ibu…

Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,

Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang

Percayalah nak…

Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu

Percayalah nak…

Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…


Syair :

Ratih Sanggarwati (Ratih Sang)

Jakarta, 21 Agustus 2004