Sabtu, 09 Oktober 2010

FILOSOFI PENSIL


“Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya” (Pepatah Jepang).
Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapa wejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan oleh si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya.
“Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamu gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu gagal.”
“Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal”.
“Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi manusia”.
“Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu”.
“Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya. Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek.
Itulah yang sebenarnya paling mencapai tujuanmu dibuat”.
Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya, dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya. Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini.
Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk digenapi dan diselesaikan. Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna.
Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang memopulerkan Logoterapi, yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan “tujuan hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri hidupnya”. Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwa salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kita belajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan.
Pertama, hidup harus punya tujuan yang pasti. Apapun kerja, profesi atau pun peran yang kita mainkan di dunia ini, kita harus berdaya guna. Jika tidak, maka sia-sialah tujuan diri kita diciptakan. Celakanya, kita lahir tanpa sebuah instruksi ataupun buku manual yang menjelaskan untuk apakah kita hadir di dunia ini. Pencarian akan tujuan dan panggilan kita, menjadi tema penting selama kita hidup di dunia. Yang jelas, kehidupan kita dimaknakan untuk menjadi berguna dan bermanfaat serta positif bagi orang-orang di sekitar kita, minimal untuk orang-orang terdekat. Jika tidak demikian, maka kita useless. Tidak ada gunanya. Sama seperti sebatang pensil yang tidak bisa dipakai menulis, maka ia tidaklah berguna sama sekali.
Kedua, akan terjadi proses penajaman sehingga kita bisa berguna optimal, oleh karena itulah, sering terjadi kesulitan, hambatan ataupun tantangan. Semuanya berguna dan bermanfaat sehingga kita selalu belajar darinya untuk menjadi lebih baik. Ingat kembali soal Lee Iacocca, salah satu eksekutif yang justru menjadi besar dan terkenal, setelah dia didepak keluar dari mobil Ford. Pengalaman itu justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berhasil di Chrysler. Ingat pula, Donald Trump yang sempat diguncang masalah finansial dan nyaris bangkrut. Namun, kebangkrutannya itulah yang justru menjadi pelajaran dan motivasi baginya untuk sukses lebih langgeng. Kadang penajaman itu ’sakit’. Namun, itulah yang justru akan memberikan kesempatan kita mengeluarkan yang terbaik.
Ketiga, bagian internal diri kitalah yang akan berperan. Saya sering menyaksikan banyak artis, ataupun bintang film yang terkenal, justru yang hebat bukanlah karena mereka paling cantik ataupun paling tampan. Tetapi, kemampuan dalam diri mereka, filosofi serta semangat merekalah yang membuat mereka menjadi luar biasa. Demikian pula pada diri kita. Pada akhirnya, apa yang ada di dalam diri kita seperti karakter, kemampuan, bakat, motivasi, semangat, pola pikir itulah yang akan lebih berdampak daripada tampilan luar diri kita.
Keempat, pensil pun mengajarkan agar bisa berfungsi sempurna kita harus belajar bekerja sama dengan orang lain. Bayangkanlah seorang aktor atau aktris yang tidak mau diatur sutradaranya. Bayangkan seorang anak buah yang tidak mau diatur atasannya. Ataupun seorang service provider yang tidak mau diatur oleh pelanggannya. Mereka semua tidak akan berfungsi sempurna. Agar berhasil, kadang kita harus belajar dari pensil untuk ‘tunduk’ dan membiarkan diri kita berubah menjadi alat yang sempurna dengan belajar dan mendengar dari ahlinya. Itulah sebabnya, kemampuan untuk belajar bekerja sama
dengan orang lain, mendengarkan orang lain, belajar dari ‘guru’ yang lebih tahu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik.
Terakhir, pensil pun mengajarkan kita meninggalkan warisan yang berharga melalui karya-karya yang kita tinggalkan. Tugas kita bukan kembali dalam kondisi utuh dan sempurna, melainkan menjadikan diri kita berarti dan berharga. Itulah filosofi ‘memberi dan melayani’ yang diajarkan oleh Tuhan kita. Itulah sebabnya Ibu Teresa dari Calcutta ataupun Albert Schweitzer yang melayani di Afrika lebih mengumpamakan diri mereka seperti sebatang pensil yang dipakai oleh Tuhan. Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupun
hasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perlu yang heboh dan spektakuler.
Sumber: Filosofi Pensil oleh Anthony Dio Martin

CINTA SANG GADIS KECIL

Kisah berikut ini sangat layak dibaca dan menjadi renungan untuk kita. Kejadian sederhana yang menunjukan bakti anak mampu menyadarkan kebencian ibu kandung terhadap dirinya. Disarikan dari buku kumpulan kisah “Surga Di Depan Mata” karya Ustadz Naufal bin Muhammad Al-‘Aidarus.

Ada seorang ibu muda yang mempunyai gadis kecil berusia satu setengah tahun. Mereka tinggal bertiga bersama mama dari ibu tersebut. Ibu muda ini sangat membenci puteri semata wayangnya itu. Bukan karena ia nakal, tetapi karena gadis kecil itu berparas sama dengan mantan suaminya, ayah dari gadis itu. Ketika ia mengandung gadis kecil tersebut, suaminya pergi meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain. Sehingga kebenciannya makin bertambah ketika paras puterinya menyerupai mantan suaminya.

Ibu muda ini melampiaskan kebenciannya pada anaknya. Diberi makan seadanya dan sehari-hari lebih banyak diurus neneknya. Gadis kecil itu pun seakan mengerti, tidak pernah merengek dan bermanja-manja seperti layaknya anak-anak terhadap ibunya.

Suatu sore sang ibu ingin berbelanja di pasar swalayan dan pada saat yang sama sang nenek tidak ada di rumah. Karena tidak ada yang menjaga, maka dengan sangat jengkel dan terpaksa ia mengajak puterinya. Dengan menggunakan sepeda motor, ia membonceng puterinya yang ditempatkan di belakangnya. Ia tidak peduli bagaimana kesemalatan gadis kecilnya. Ia hanya berpesan, “Pegangan yang erat. Kalau tidak, nanti mama pukul.”

Beberapa menit kemudian sampailah mereka ke pasar swalayan. Si ibu menuju area parkir dan meninggalkan gadis kecilnya di tempat duduk sepeda motor, tepatnya di jok bagian belakang. Ia hanya berpesan :

“Kamu harus duduk di sini saja, mama mau beli sesuatu. Kamu jangan ke mana-mana!”

Dengan wajah ketakutan karena lingkungannya yang tidak ramah, apalagi mendengar suara ibunya yang keras, gadis itu hanya mengangguk pelan. Sang ibu berjalan masuk ke dalam pasar swalayan tanpa memikirkan bagaimana keadaan anaknya di parkiran. Tanpa ia sadari kalau beberapa saat kemudian terjadi hujan deras.

Setelah memenuhi keperluannya, sang ibu keluar gedung. Dengan menggunakan jaket menutupi kepala dan bergegas menuju are parkir. Di sana ia melihat anaknya tidur memeluk jok sepeda motor yang diterpa hujan. Melihat anaknya seperti itu, ia marah dan memaki anaknya.

“Mama tadi kan sudah bilang, kamu harus duduk diam di sini, di jok belakang ini. Tapi kamu kok malah tidur di jok ini. Dasar anak tidak tahu diri!”

Sambil menangis, dengan suara yang lemah dan bergetar menggigil kedinginan, sang gadis kecil berkata kepada ibunya :

“Mama … aku takut tempat duduk mama basah kena hujan. Aku tidur di atasnya supaya mama pulang tidak kebasahan.”

Ucapan lugu sang gadis kecilnya seperti petir menyambar dirinya. Sikap kasar dan tidak punya belas kasih selama ini seakan runtuh seketika. Air matanya pun berderai, lalu mendekap erat gadis kecilnya. Dalam hati ia berkata, “Walau aku membenci bahkan menghardik anak ini, ternyata tidak tersimpan dendam dalam hatinya.” Sang ibu pun menyesali perbuatannya selama ini. Sejak saat itu ia memberikan kasih sayang kepada gadis kecilnya seperti layaknya perhatian seorang ibu kepada anaknya. ***

Kebencian selama satu setengah tahun terhadap anak kecilnya sendiri, bukan hal yang sederhana. Namun justru keluguan sang anak, sikap tanpa pamrih sang anak yang mengantarkan sang ibu menuju titik balik pada kasih sayang yang semestinya. Karena memang sang anak tidak layak menanggung alamat kebencian ibunya.

Maka berbahagialah siapapun kita, anak-anak yang merelakan hati untuk memahami sikap orang tua. Kadang kala kita menganggap orang tua egois hanya karena keinginan mereka tidak sejalan dengan alam pikiran kita. Padahal bisa jadi kitalah anak yang egois karena tidak berusaha memahami keinginan orang tua. Namun sikap terbaik untuk menunjukkan kasih sayang tanpa pamrih apapun, terbukti telah mengubah segalanya menjadi ni’mat. Apapun yang dilakukan orang tua pasti untuk kebahagiaan anak, tapi belum tentu yang dilakukan anak untuk kebahagiaan orang tua.

Semoga kita bisa memetik hikmah dari kisah tersebut. Amiin.

Sabtu, 25 September 2010

Ungkapan Maaf Lewat Pita Kuning

Kisah berikut ini pernah dimuat surat kabar New York Post, pada tahun 1971. Sebuah kisah yang awalnya sederhana namun akhirnya penuh makna. Penting anda baca untuk menambah koleksi khasanah hikmah yang bisa dipetik.

Kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita cantik dan baik, Sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Suatu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu naik bis kota besar untuk menuju kehidupan yang baru. Bersama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, narkotik. Dia menikmati semuanya.

Waktu berganti, bulan dan tahun pun berlalu. Bisnisnya mulai mengalami kegagalan dan dia merasakan kekurangan uang. Dia terlibat dalam perbuatan kriminal, yaitu menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya datang waktu naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara. Dalam proses pengadilan dia diganjar hukuman tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istri dan keluarganya. Akhirnya dia memutuskan menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya.

Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat. Oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis :

“Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan sayang padaku, maukah kau nyatakan?” Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji, aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.”

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya?

Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, “Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan… kita mesti lihat apa yang akan terjadi…”

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras.

Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya…

Dia tidak melihat sehelai pita kuning…

Tidak ada sehelai pita kuning….

Tidak ada sehelai……

Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning….bergantungan di pohon beringin itu. Ooh…seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning…!!!!!!!!!!!!

Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu berjudul : “Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree”. Dan ketika album ini dirilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits nomor satu pada bulan April 1973.

Inilah syair lagu yang diangkat dari kisah nyata tersebut :

I’m coming home
I’ve done my time And I have to know what is or isn’t mine
If you received my letter telling you I’d soon be free
Then you’d know just what to do
If you still want me
If you still want me
Oh tie a yellow ribbon
‘Round the old oak tree It’s been three long years
Do you still want me If I don’t see a yellow ribbon ‘Round the old oak tree
I’ll stay on the bus, forget about us
Put the blame on me If I don’t see a yellow ribbon ‘Round the old oak tree
Bus driver please look for me ‘Cause I couldn’t bare to see what I might see
I’m really still in prison And my love she holds the key
A simple yellow ribbon’s all I need to set me free
I wrote and told her please
Oh tie a yellow ribbon ‘Round the old oak tree It’s been three long years
Do you still want me If I don’t see a yellow ribbon ‘Round the old oak tree
I’ll stay on the bus, forget about us
Put the blame on me If I don’t see a yellow ribbon ‘Round the old oak tree
Now the whole damn bus is cheering And I can’t believe
I see A hundred yellow ribbons ‘Round the old, the old oak tree
Tie a ribbon ’round the old oak tree…

CLIP VIDEO Tie a Yellow Ribbon Round The Old Oak Tree

IMPIAN US$ 100.000.000 JIM CARREY


Anda pasti mengenal actor unik JIM CARREY. Aktor ini memiliki keuletan berjuang yang sangat layak ditiru. Berawal dari IMPIAN besarnya memiliki uang US$ 100.000.000. Padahal penting diketahui, bahwa saat itu dia tidak memiliki pekerjaan yang layak untuk mendapatkan uang sedemikian besarnya.

Tapi apa yang dilakukan JIM CARREY. Yang bisa ia lakukan adalah VISUALISASI IMPIAN dengan selembar cek kosong. Di Cek itu ia menulis dengan jelas angka US$ 100.000.000. Langkah penting untuk mewujudkannya, JIM CARREY memiliki impian menjadi actor dengan bayaran besar seperti angka di cek yang ditulisnya sendiri.

Setiap saat ia selalu melihat cek tersebut. Terutama ketika ia mengalami berbagai kegagalan dalam audisi casting. Dia tetap meyakinkan diri bahwa cek itu pasti ia wujudkan. Sambil menunjuk cek tersebut ia mengatakan, “SAYA PASTI BISA MEMILIKI INI…..!!!”. JIM CARREY tidak pernah merasa kalah, bahkan semakin sering mengalami kegagalan, ia ditolak di setiap audisi, ia membiasa dengan keadaan itu sampai mentalnya pun makin kuat bagai baja. Semakin ke depan, ia menganggap bahwa impiannya semakin dekat.

Perjuangannya akhirnya membuahkan hasil yang fantastis. Ia diterima menjadi pemeran utama dalam film komedi yang berjudul “THE MASK”. Film ini melambungkan nama dan karier JIM CARREY sebagai actor handal. Untuk perannya di film tersebut, ia menerima pembayaran uang sejumlah US$ 100.000.000, sebuah angka fantastis dan sama seperti angka yang pernah ia visualisasikan di cek kosong.

Apa yang dilakukan JIM CARREY adalah jamak dilakukan oleh orang-orang sukses. Mereka telah melihat apa yang akan mereka capai lewat gambaran (visualisasi) impiannya. Gambar itulah yang menjadi objek AFIRMASI, menanamkan keyakinan yang luar biasa, merasakan bahwa impian tersebut benar-benar telah dicapai. Sugesti yang tertanam dalam sadar dan bawah sadar adalah hal yang diimpikan. Mereka tetap bersemangat walaupun yang dialami adalah kegagalan. Tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan yang memudarkan impian, tapi menjadikan kegagalan sebagai anak tangga menuju sukses. Kegagalan yang dialami menjadi “cerita indah” dalam sejarah hidup mencapai sukses.

Maka, jika ingin sukses seperti mereka, kita harus berani melakukan proses seperti mereka. ORANG SUKSES MEMILIKI IMPIAN.

ORANG SUKSES MENGGAMBARKAN IMPIANNYA.

ORANG SUKSES SIAP MELEWATI KEGAGALAN.

ORANG SUKSES TETAP BERSEMANGAT WALAUPUN MENGHADAPI KEGAGALAN.

ORANG SUKSES TIDAK PEDULI APAPUN KATA ORANG LAIN, KECUALI UNTUK MENDUKUNG IMPIANNYA.

“To accomplish great things, we must not only act, but also dream.”

Untuk pencapaian besar, aksi saja tidak cukup, tapi butuh impian

(Anatole France)

“Every great dream begins with a dreamer”

Setiap impian yang hebat bermula dari pemimpi.

(Harriet Tubman)

Senin, 06 September 2010

DALAM HIDUP SELALU ADA PILIHAN



Sering kita mendengar istilah “Hidup itu pilihan”. Saya katakan, “HIDUP BUKAN PILIHAN” namun “DALAM HIDUP SELALU ADA PILIHAN”. Karena kita tidak pernah bisa memilih sejarah kehidupan kita berawal dari mana, lahir dari rahim siapa, dilahirkan di mana. Namun berikutnya sejarah akan mencatat apa pilihan-pilihan dalam hidup kita. Memilih menjadi orang biasa ataukan luar biasa. Memilih menjadi pemenang, ataukan menjadi pecundang. Memilih menjadi penolong ataukah beban orang lain. Memilih kaya prestasi ataukah miskin prestasi. Memilih hidup untuk kemuliaan ataukah kenistaan. Memilih jalan menuju sorga ataukah merintis jalan tol menuju neraka. Itu semua adalah pilihan SETELAH KITA MENGETAHUI BAHWA KITA HIDUP.
Ketika hidup kita berawal dari kebodohan, kemiskinan dan tidak mengenal Tuhan, maka kita bisa mencari pembenaran dengan cara menyalahkan ORANG TUA. Tapi ketika mengakhiri kehidupan dalam keadaan bodoh, miskin dan awam nilai agama, maka itu adalah mutlak KESALAH-PILIHAN KITA.
Maka ketika kita menghadapi pilihan di setiap detiknya, sejatinya itulah pilihan paling benar dan dipastikan bahwa PILIHAN TERSEBUT AKAN MENJADI SATU LANGKAH MENGUKUHKAN JALAN PRESTASI BESAR KITA. Sebagai insan yang ber-Tauhid, kita juga mengimani bahwa pilihan yang terbaik adalah memiliki kesesuaian dengan standar yang ditetapkan Tuhan, dalam Kitab Suci dan tuntunan Rasul-Nya.
Dengan demikian, pilihan tidak diukur dengan perasaan SUKA – TIDAK SUKA, UNTUNG - RUGI, MUDAH – SUSAH dan sebagainya. Karena jika hanya menggunakan ukuran tersebut, nilai kepuasan (kompensasi) hanya ada di nafsu. Setiap pilihan yang hanya menggunakan standar nafsu, selalu menjadi jalan tol menuju kehinaan. Sejarah telah mencatat, berapa banyak anak bangsa bahkan pemimpin besar dunia bisa “terjun bebas” karena hal yang sepele, yaitu hanya pilihan “suka”. Bukan karena pilihan “Benar”.
Jika kita memilih menanam PADI, kita juga harus berani melihat fakta, bahwa di sekitar padi akan tumbuh ILALANG. Tapi jika kita memilih menanam ILALANG, jangan pernah bermimpi bahwa di sekitar ilalang akan tumbuh PADI. Artinya, memilih YANG BENAR akan ada tantangan dan masalah, tapi ada harapan memetik HASIL DARI KEBENARAN YANG DIPILIH. Sedangkan memilih YANG SALAH—walaupun awalnya mungkin disukai—pada akhirnya berbuah pahit. Tidak ada hikmah yang bisa dipetik dari pilihan yang salah, kecuali DIKETAHUI UNTUK DIHINDARI.
Maka sejatinya kita bisa MENENTUKAN PILIHAN-PILIHAN TERBAIK, karena itulah awal dari upaya mengukuhkan nilai sejarah besar anda. Tidak terlalu penting seberapa besar masalah yang harus dihadapi serta nilai hasil dari pilihan kita. Namun yang pasti bahwa ujung dari pilihan terbaik adalah hasil terbaik pula, apapun keadaannya.
Sebagian orang mengatakan, bahwa tidak berjuang atau tidak melakukan apapun—itu juga termasuk pilihan. Memang benar bahwa hal tersebut termasuk pilihan. Namun pertanyaannya, apa yang bisa dicapai dengan pilihan “tidak berjuang?” Tidak ada! Dan pilihan tersebut juga menjadikan hidup “tidak lagi penting”. Tentu hal ini bukanlah sesuatu yang bijak.
Dua hal penutup catatan ini :
1. Tidak ada masalah besar kecuali berawal dari kumpulan hal-hal kecil yang diabaikan. Sekecil apapun pilihan salah yang disengaja, berpotensi besar menghalangi setiap orang dalam meraih prestasi besar. Sementara hidup ini sangat berharga, sehingga sangat tidak bijak jika dipermainkan.
2. Tidak ada pencapaian besar kecuali tersusun dari pilihan-pilihan kecil yang teratur. Sebuah papan puzzle akan sempurna dari keteraturan pilihan penempatan setiap bagiannya. Demikian pula, perjalanan panjang seribu mil pasti dimulai dari satu langkah kecil. Atau kumpulan tanah, kerikil dan batu yang tersusun hingga membentuk pegunungan. Maka dengan memilih yang benar walaupun nilainya kecil, tanpa disadari akan bertemu pencapaian besar. ***

Sabtu, 21 November 2009

REVIEW PARADIGMA PENGAJARAN

Al Kamil *)

Mencermati pola pengajaran, motivasi belajar dan hubungan materi pelajaran dengan skill, saya ingin membahas beberapa hal. Diawali dari perbedaan motivasi belajar yang sangat jelas antara siswa SLTA di sekolah dengan di LPK. Dengan materi pelajaran praktek keterampilan yang sama, di LPK siswa belajar dengan penuh antusias, motivasi untuk memahami cukup tinggi. Sedangkan di sekolah hanya antusias saja. Itupun karena (mungkin) belajar praktek adalah sisi lain untuk mengurangi kejenuhan. Pada awalnya saya mengira bahwa motivasi besar siswa yang belajar di LPK karena perhitungan biaya besar dan masa belajar yang terbatas. Namun setelah dipelajari lebih lanjut, saya menyimpulkan lain. Di LPK, siswa sangat menikmati proses belajar karena mereka ”memahami untuk apa mereka belajar dan manfaat apa materi itu dipelajari”. Hal ini tentu berbeda dengan pengajaran di sekolah, terutama di tingkat SLTP dan SLTA atau bahkan di Perguruan Tinggi.

Mungkin kita semua masih ingat, bagaimana semangat belajar kita semasa TK dan SD. Semangat belajar membaca, menulis, berhitung, menghapal dan bernyanyi. Kita bersemangat karena memang setiap hari menemukan pengetahuan baru dan pencapaian baru. Ketika di SLTP dan di SLTA kita mendapatkan pelajaran baru juga, namun di sini makin sadar bahwa tidak semua pelajaran bisa dipahami ”untuk apa dipelajari”, terlebih lagi dipraktekkan. Semakin tidak dipahami ”untuk apa” tersebut, semakin sulit menerima, semakin tidak tertarik mempelajarinya. Tentu hal ini problem yang perlu dicermati. Padahal, siswa tetap berkewajiban ”melahap” sekian mata pelajaran itu. Bagaimana pula hubungan pelajaran tersebut dengan target karier profesional mereka sekian tahun ke depan.

Pada akhirnya terbentuk paradigma tentang belajar, yaitu belajar adalah proses formal untuk melegitimasi pencapaian profesi tertentu. Atau belajar adalah proses untuk mengetahui, terlepas dari ”dapat diterapkan atau tidak”. Belajar seakan menjadi kegiatan tranformasi konsep dari guru ke siswa, kemudian siswa menjadi guru dan mengajarkannya lagi kepada siswa, dari generasi ke generasi. Kecerdasan seseorang seakan dilihat dari kemampuan menghapal pasal dan ayat, susunan kata dalam kalimat yang dikemukakan oleh pakar dibidangnya. Wajar jika kemudian semakin tinggi strata pendidikan seseorang, semakin berpotensi menjadi pengajar, pengamat sejati, penganalisis. Hasil besar dari pengajaran adalah pengajaran itu sendiri. Hanya sedikit yang ”menjadikan sesuatu” atau ”mewujudkan sesuatu”. Malah ada anekdot yang cukup ”melecehkan” bahwa orang Indonesia bisa mendarat di bulan tanpa menggunakan roket. Caranya cukup sederhana, yaitu mendaki tumpukan makalah dan sertifikat seminar.

Sebagai pembanding coba kita lihat lima pilar pendidikan :
1. learning to know (belajar untuk memperoleh pengetahuan)
2. learning to learn (belajar untuk tahu cara belajar).
3. learning to do (belajar untuk dapat melakukan pekerjaan)
4. learning to be (belajar agar dapat menjadi orang yang berguna sesuai dengan minat, bakat dan potensi diri).
5. learning to live together (belajar untuk dapat hidup bersama dengan orang lain).

Kira-kira berapa pilar yang dibangun di negeri ini? Yang pasti, pilar terbesar adalah learning to know dan learning to learn. Salah satu petunjuk besar untuk membuktikan bahwa mata pelajaran yang diajarkan lebih bersifat pengetahuan adalah ”trend nyontek alias njiplak” yang nyaris menjadi budaya. Karena siswa tahu bahwa proses belajar hanyalah teori sehingga bisa dijiplak tanpa harus memahami. Dianalogikan sederhana, siswa sangat mahir menghapal dan menyontek gaya renang profesional walaupun mereka tidak pernah praktek olahraga renang. Teori renang bisa dicontek pada saat ujian di universitas olahraga, bisa dikarang jika tidak mengerti selengkapnya. Tapi satu hal yang pasti, manusia primitip pun bisa menjawab dengan benar bahwa untuk menjadi perenang profesional harus ”terjun ke air”. Maksudnya, tahap paling bijak setelah ”belajar mengetahui” adalah ”bisa melakukan”. Saya memahami bahwa ilmu pengetahuan harus menggugah dan membentuk pemahaman manusia menjadi karakter yang memudahkan proses kehidupannya. Ilmu pengetahuan bukan sekedar kumpulan kata yang membentuk kalimat yang tercantum di naskah buku pelajaran. Ilmu pengetahuan adalah terjemahan dari fakta, nilai empiris, menerangkan dan mendorong mewujudkan hal-hal yang belum terwujud. Ilmu pengetahuan bukan sesuatu yang abstrak, tetapi bisa dirasakan. Inilah beberapa penekanan dalam pengajaran, sehingga apa yang dipelajari dapat dipahami fungsinya, nilai idealnya, tingkat kepentingannya, ruang penggunaannya.

Hal yang sangat ”menggelisahkan” saya adalah ketika para siswa harus memiliki nilai spektakuler pelajaran yang tidak ada hubungan langsung terhadap kejuruan yang dipilih. Siswa ”terpaksa” menghabiskan energinya berkutat di materi pelajaran tertentu yang notabenenya tidak menunjang program profesi yang dipilihnya. Mereka belajar keras bukan untuk memahami nilai dari pelajaran yang ditekuni, melainkan hanya ingin lulus ujian.

Parahnya lagi, para pengajar pun tidak semuanya menjelaskan manfaat apa bahan pengajarannya. Saya sering bertanya, sebesar apa manfaat mata pelajaran yang diajarkan terhadap profesi yang dipilih siswa. Jawaban paling trend, ”Ya ada sih, tapi ya bingung juga menjelaskannya. Memang pembelajarannya seperti itu ya ikuti saja.” Bahasa sederhananya, untuk apa kita ”berkutat” dalam sistem yang kita ketahui tidak mencerahkan dan tidak mencerdaskan.
Beberapa kali saya ikut seminar tentang peningkatan kualitas pengajaran, ternyata yang menarik bukan materinya, melainkan sertifikat atau piagam untuk menambah point akreditasi. Kalau sudah seperti ini, sulit membangun kepercayaan siswa terhadap pembelajaran. Karena aura pengajar sendiri menunjukkan ketidak yakinan dengan bahan ajarannya.

Contoh fakta :
Berdasarkan penelitian terhadap pendidikan enterpreneur yang dikembangkan di Indonesia, didapatkan fakta bahwa peserta yang berhasil dalam pembelajaran hanya mencapai angka 23%, sementara peserta yang berhasil menjadi entrepreneur atau wirausahawan hanya 3%. Di Akademi Pimpinan Perusahaan yang berada di bawah naungan Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI, jumlah lulusan yang menjadi pengusaha hanya mencapai angka 4%, sementara 96% sisanya menjadi karyawan. Analisis dari Tim Pakar The Grage Institute yang mendesain proses pembelajaran dalam kegiatan ini, menyimpulkan penyebab kegagalan karena Pendidikan kewirausahaan lebih berorientasi pada dua hal : Pengetahuan tentang bisnis dan Keterampilan pendukung dalam mengelola bisnis. Sehingga orang hanya mengetahui ilmu bisnis tetapi tidak berani menjalankan bisnis.

Dapat dibayangkan, jika ilmu terapan di lembaga pendidikan yang notabenenya difokuskan untuk menjadi wirausahawan saja tidak melahirkan nilai ideal yang signifikan, apalagi di lembaga lain.
Jika dihubungkan dengan motivasi belajar siswa di sekolah, saya menyatakan bahwa ”sangat wajar kalau siswa malas belajar”. Bukan berarti mendukung siswa yang enggan belajar, tapi saya memahami kegelisahan siswa. Pendidikan seakan rutinitas sekaligus identitas. Yang penting hadir setiap hari di sekolah, mengikuti ujian, tidak anarkis, sanggup membayar SPP, maka jaminan lulus sudah dikantongi. Institusi penanggung jawab pendidikan menganggap musibah jika banyak siswa yang tidak lulus di wilayahnya, tapi tidak menganggap masalah jika banyak siswa yang lulus tanpa memiliki kecakapan. Saya pernah ditunjukkan oleh rekan guru, ada siswa yang lulus SD sebelum siswa itu bisa membaca. Tahun 2008 dan 2009 pasca ujian sekolah dunia pendidikan dihebohkan dengan kecurangan sistematis pada saat UAN dan UNAS. Nilai matematika, bahasa Inggeris dan bahasa Indonesia seperti mahkota permata yang berharga fantastik. Sementara di sisi lain, institusi pendidikan melihat biasa-biasa saja ribuan siswa yang lulus ujian tanpa mereka memahami sebab mereka diluluskan, bahkan tidak mengerti apa yang dilakukan pasca kelulusan. Termasuk para sarjana yang menurut data tahun 2008, angka penganggur berijazah sarjana lebih 1,4 juta orang. Juga tidak tahu apa yang bisa dilakukan dengan titel dan ijazahnya. Yang mereka tahu hanya melamar pekerjaan, berdesak-desakan di bursa kerja walaupun mereka sendiri mengerti hal itu bukan pilihan yang menyenangkan.

Mungkinkah kita melihat masalah ini hanyalah kasuistis yang terjadi kebetulan? Tidak, karena kurikulum pendidikan terus diperbaharui atau disempurnakan. Artinya bahwa ibu pertiwi tidak pernah surut melahirkan putera-puteri bangsa yang mampu mengikuti proses pendidikan dengan baik. Maka, jika hasilnya meningkatkan jumlah anak bangsa yang ”linglung” setelah melewati proses pendidikan belasan tahun, berarti dibutuhkan ”reformulasi akbar” pola pengajaran dan meninjau kembali efektivitasnya yang diterapkan selama ini. Jelas hal ini bukan pekerjaan sederhana karena menyangkut pola pikir yang sudah membudaya. Namun pasrah juga bukan solusi dalam mengubah wajah generasi.

Beberapa Titik Evaluasi

Pertama, jumlah mata pelajaran perlu ditinjau lagi. Menurut saya mata pelajaran yang wajib dikuasai sepertinya sangat banyak, terutama di tingkat SLTA. Karena di tingkat SLTA siswa sudah harus memiliki target profesi. Ahli pendidikan, Montessory, Gormly dan Brodzisky menyatakan pada usia 12 – 18 tahun, dan Charles Buhler menyatakan pada usia 13 – 19 tahun – seseorang mengalami proses ”PENEMUAN DIRI” yang berikutnya menjadi TAHAP PENTING untuk mengasah bakat, kecerdasan dan potensi yang dimiliki untuk menentukan pekerjaan/profesinya. Para siswa tidak bisa fokus jika pelajaran yang dibebankan kepada mereka terlalu banyak, padahal tidak semuanya efektif menunjang karakteristik profesi mereka.

Kedua, pentingnya metode belajar yang memungkinkan siswa dapat memahami manfaat riil dari sebab pengajaran setiap materi yang diberikan, serta dapat diterapkan sesuai dengan bidang kejuruan yang ditargetkan. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong minat belajar siswa, karena prinsip dasar manusia adalah ”selalu ingin mengetahui” dan akan memetik manfaat jika ”tidak sekedar mengetahui”. Melihat satu manfaat riil tentu lebih pasti menarik minat daripada seribu iklan yang tidak menjelaskan manfaat. Siswa termotivasi belajar jika mereka meyakini manfaat besar dari sebab mereka belajar, nyata dan tidak dikamuflase.

Ketiga : Mengurangi pelajaran yang tidak berhubungan langsung dengan aktivitas praktis. Saya meyakini bahwa semakin ke depan, pelajaran yang hanya berbasis pengetahuan semakin ”tidak penting” dipelajari di sekolah. Karena jika sekedar minat untuk mengetahui, orang lebih memilih media informasi berbasis teknologi seperti internet. Saya tidak yakin bahwa sekian tahun kedepan orang masih tertarik belajar tentang tata surya, proses gerhana, perubahan iklim dan semacamnya di sekolah. Karena informasi terlengkap dan ter-update ada di media teknologi komunikasi, berkembang drastis tanpa menunggu pembaharuan kurikulum oleh institusi pendidikan nasional. Kasihan penyusun kurikulum akan ”berbalapan ria” dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat mengungkap hal-hal baru menjadi pengetahuan baru. Dan yang lebih penting lagi, seberapa pun besarnya pengetahuan tentang ilmu tersebut, toh pada akhirnya harus menyiapkan lamaran kerja juga untuk diajukan ke berbagai sektor industri dan jasa.

Keempat, Ujian Nasional dengan standar kelulusan yang bertumpu pada mata pelajaran tertentu harus dievaluasi besar-besaran asas manfaatnya. Menurut saya, ujian nasional tersebut telah merusak atau minimal membuat pincang pilar pendidikan. Anak bangsa sibuk belajar menyelesaikan soal pilihan ganda, lembaga bimbingan belajar beriklan mengajarkan cara smart menjawab soal pelajaran ini dan itu. SEKOLAH SEAKAN MENJADI SARANA MERAMPUNGKAN JAWABAN TEKA-TEKI SILANG. Saya sepakat dengan pendapat Sosiolog dari UI, Dr. Imam Prasodjo, bahwa Ujian Nasional jangan dijadikan standar kelulusan. Karena berakibat mengebiri dan merampas kecerdasan anak bangsa. Tidak ada kata yang paling tepat selain, ”HENTIKAN”. Ganti dengan metode lain yang lebih mencerdaskan anak bangsa.

Kelima, Hilangkan diskriminasi pendidikan di sekolah negeri seperti pelabelan ”sekolah unggulan” dan hanya menerima siswa yang berprestasi standar. Cukup sekolah swasta yang berhak memilah siswa, karena memang dibangun secara mandiri. Sekolah negeri difasilitasi oleh negara, memakai uang rakyat. Maka sangat tidak pantas memilah-pilah anak didik yang notabenenya rakyat juga. Kapan wajah anak bangsa berubah jika hanya memanjakan sebagian dan menganak-tirikan yang lain. Kapan siswa dari ”kelas bawah” bisa termotivasi dan memiliki impian besar jika setiap hari hanya berkumpul dengan teman-teman yang keadaannya sama. Jika ada sekolah unggulan, tentu yang lain adalah sekolah tidak unggul yang menjadi tempat penampungan siswa yang termarginalkan. Tahukah anda apa yang terjadi jika anak didik yang termarginal tersebut berkumpul? Tahukah anda bagaimana beban guru yang mengajar di sekolah tersebut? Saya yakin, nurani kita sama seperti yang telah diamanahkan UUD 1945, bahwa setiap warga negara berhak mendapat pengajaran.

Keenam, Mendorong terciptanya budaya yang menyehatkan pendidikan di berbagai bidang. Terutama membatasi liberalisasi media massa audio visual seperti televisi yang jika dicermati sangat jauh dari nilai edukasi. Tidak cukup hanya mengandalkan TV pendidikan, TV anak sebagai pilihan cerdas. Karena pada saat yang sama puluhan channel menyiarkan program yang menyesatkan dan kebetulan diminati siswa siswi. Kita tidak akan pernah bisa cerdas jika belajar pada sinetron, infotainment, hura-hura musik, film mistis, sulap dan tayangan sampah lainnya. Tapi sebagai rakyat juga tidak memiliki ”tangan besar untuk menonjok” kapitalis dan liberalis pemilik media massa. Hanya pemegang kebijakan yang bisa mengatur. Saya dan jutaan orang yang ingin melihat anak bangsa lebih beradab, yakin bahwa pencerahan itu pasti ada jika kita mau. Liberalisme mungkin sebuah tantangan di era globalisasi, tapi juga berpotensi menciptakan kebiadaban dalam peradaban. ***

*) Penulis :
- Direktur Lembaga Pemberdayaan Generasi Muda (LPGM) ”Bina Prestasi” Samarinda.
- Guru Mata Diklat KKPI, SMK Muhammadiyah 2 Samarinda.
- Owner Al-Kamil Media (Media Grafika & Perdagangan Umum) Samarinda.

Minggu, 15 November 2009

SUKSES PELAJAR


al Kamil *)

MENGENAL DIRI

Yaitu, menilai diri secara obyektif. Susunlah “Daftar Nilai” pribadi, seperti prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri, keahlian yang dimiliki, kesempatan, fasilitas, faktor pendukung kemajuan diri, dll.
Woow, ternyata kita punya POTENSI DAHSYAT lho! Kita harus SIAP memupuk potensi besar itu agar tetap subur. Temukan pula potensi yang belum dikembangkan. Pelajari kendala yang selama ini menghalangi perkembangan diri kita seperti: pola berpikir yang keliru, motivasi yang lemah, kurangnya disiplin diri, kurang tekun, kurang sabar, tergantung pada orang lain, atau pun sebab-sebab lain.
Ingin lebih mantap lagi? Bikin analisis S-W-O-T (Strengths, Weaknesses, Opportunity and Threats – Kekuatan, Kelemahan, Dukungan, Ancaman) diri kita. Gunakan analisis itu untuk membuat strategi pengembangan diri yang lebih nyata.

PARADIGMA SUKSES DARI PENGAJARAN ROBERT T. KIYOSAKI Konsep Cash Flow Quadrant & Poor Dad, Rich Dad




(KLIPING REFERENSI, dikutip dari berbagai sumber)

Robert T. Kiyosaki adalah konsultant keuangan orang terkaya di dunia, Bill Gates (Pemilik Microsoft Corporation). Bukunya senantiasa menjadi Best Seller dikaji oleh orang-orang berbagai kalangan. Kiyosaki mengajarkan kita bagaimana membangun kecerdasan finansial, kecerdasan mengembangkan potensi yang kita miliki sehingga tidak harus selamanya “bekerja untuk mendapatkan uang”, melainkan strategi praktis bagaimana “uang bekerja untuk kita”.

THE CASHFLOW QUADRANT

Dalam buku tersebut kita akan mengetahui letak kuadran keadaan finansial kita.
Cashflow Quadrant dipetakan menjadi E, S, B, dan I.

E untuk employee (pegawai), membarterkan waktu dan tenaganya untuk membangun Asset yang dimiliki “B”.
S untuk Self-employed (pekerja lepas), membarterkan waktu dan tenaganya untuk memperoleh penghasilan.
B untuk business owner (pemilik usaha), dimana orang lain bekerja untuk membangun aset mereka, sesuai sistem yang dimilikinya.
I untuk investor (penanam modal), kemudian dia memetik hasilnya. Tanpa ikut mengelola pun, mereka tetap mendapatkan penghasilan.

“E” dan “S” yang mengandalkan gaji diletakkan di kuadran sisi kiri, sedangkan “B” dan “I” yang menerima pemasukan dari bisnis atau investasi diletakkan di sisi kanan.

Setiap orang setidaknya menempati satu dari keempat Cashflow Quadrant dan kebanyakan dari kita menempati posisi sebelah kiri sebagai employee atau self-employee. The Cashflow Quadrant adalah tentang keempat jenis orang berbeda dalam dunia bisnis, tentang siapa diri mereka dan apa yang membuat individu di masing-masing kuadran unik.

Pembaca akan dibantu menentukan di mana posisi kita sekarang dalam quadrant,
dan pembaca akan dibantu memetakan arah untuk mencapai posisi yang diinginkan di masa depan ketika memilih jalan sendiri untuk menuju kebebasan finansial.

Walaupun kebebasan finansial bisa ditemukan dalam keempat kuadran ini, namun keterampilan “B” atau “I” akan membantu mencapai target finansial dengan lebih cepat. Dan seorang “E” yang berhasil seharusnya menjadi seorang “I” yang berhasil juga. Buku ini ditulis bagi mereka yang siap untuk pindah dari keamanan pekerjaan dan mulai mencari kebebasan finansial mereka; membuat perubahan finansial dan profesional yang besar dalam hidup mereka; dan pindah dari Era Industri ke Era Informasi.

Setiap orang dapat sukses di kuadrannya masing-masing
Perbedaan seorang E, S dan seorang B, I adalah :
Bahwa seorang E, S tidak dapat meninggalkan bisnisnya dalam waktu yang lama,
sedangkan seorang B, I dapat meninggalkan bisnisnya dalam waktu yang relatif lama
karena ASET-lah yang bekerja untuknya.

CONTOH SEORANG ”E”
Seorang ”E” sebagai pegawai/karyawan di suatu perusahaan/instansi, jika tidak dapat bekerja karena alasan sakit atau usia lanjut, maka dipastikan tidak mendapatkan uang / gaji untuk mereka. Seandainya mereka mendapat tunjangan, tentu saja relatif kecil yang sama sekali tidak memberi jaminan kebebasan finansial. Ironisnya lagi, seberapa pun lamanya seorang ”E” mengabdi sebagai pegawai/karyawan, dia tidak akan pernah lebih kaya daripada ”boss”nya.
CONTOH SEORANG ”S”
Dimisalkan ”S” adalah seorang dokter. Apabila seorang dokter tidak membuka praktek karena alasan kesehatan, usia lanjut, atau karena adanya bencana yang mengakibatkan seorang dokter tidak bisa membuka prekteknya, maka dokter tersebut tidak akan mendapatkan penghasilan.

CONTOH SEORANG ”B”
Dimisalkan seorang ”B” adalah pemilik waralaba ayam goreng. Apabila pemilik waralaba tersebut ingin berlibur ke luar negeri selama satu bulan hingga beberapa tahun, maka bisnisnya akan tetap berjalan dan menghasilkan uang karena telah memiliki SISTEM yang telah terbukti dapat berjalan dengan sistem yang ada dan karyawannya menjalankan sistem tersebut.

CONTOH SEORANG ”I”
Dimisalkan seorang ”B” adalah deposan. Sama seperti seorang ”B”, yaitu ketika seorang deposan ingin meninggalkan bisnisnya dalam waktu yang lama, maka bisnisnya tetap dapat berjalan karena ASET-lah yang bekerja untuknya.

Kesimpulannya, siapapun yang berada di ”quadrant kiri” ketika berpenghasilan besar menunjukan imbalan pengorbanan yang besar pula yaitu waktu, tenaga, pikiran, strata pendidikan dan lain-lain. Berapa banyak orang yang berpendidikan tinggi disertai gelar yang beraneka ragam—namun ia berada di quadrant ”E”, tenyata harus bekerja di bawah kendali orang lain minim pendidikan formal yang kebetulan berada di quadrant ”B”.

Sedangkan orang yang berada di ”quadrant kanan” lebih memilih bekerja sementara membangun sistem dan atau asset yang kemudian menjadi ”mesin penghasil uang” di saat bekerja bukan lagi sebagai kewajiban. Hal ini sekaligus menjadi jawaban dari pertanyaan, ”Mengapa si pekerja keras tidak menikmati masa kaya, sementara si pekerja cerdas lebih menikmati kebebasan finansial.”

“RICH DAD’S”
THE BUSINESS SCHOOL FOR PEOPLE WHO LIKE HELPING PEOPLE


Dalam Buku ini, Kiyosaki memprediksikan adanya TREN PERUBAHAN TATANAN EKONOMI DUNIA yang digerakan oleh industri pemasaran jaringan. Mengapa demikian? Berikut ini alasannya:

1. Orang menginginkan kebebasan
Hilanglah sudah masa di mana orang mulai bekerja pada usia 25 dan tetap di situ seumur hidup…melakukan seperti apa yang diperintahkan untuk dilakukan guna mempertahankan pekerjaan mereka. Kini orang ingin lebih bergerak, memiliki lebih banyak pilihan, dan lebih banyak kebebasan untuk menjalankan hidup sesuai dengan persyaratan mereka. Bisnis pemasaran jaringan paruh waktu memungkinkan orang lebih dapat mengendalikan hidup mereka dan akhirnya lebih banyak kebebasan. Ia memberikan biaya masuk yang rendah dan sistem siap pakai bagi orang-orang yang ingin sekali melakukan perubahan.

2. Orang ingin menjadi kaya
Pada generasi orang tua kita aturannya mengatakan kalau anda bekerja keras, semakin anda tua, semakin banyak anda dibayar. Anda mendapatkan uang lebih banyak melalui kenaikan gaji. Dan ketika anda mendekati akhir hidup anda, anda akan berkata, “Ketika saya pensiun, penghasilan saya akan menurun.” Dengan kata lain, asumsi bagi orang tua kita adalah anda bekerja keras seumur hidup dan pensiun miskin.

Sekarang ada orang berumur 25 tahun yang tidak pernah mempunyai pekerjaan tetapi telah menjadi milyader dengan membangun piranti lunak komputer. Pada saat yang sama, ada orang yang berumur 50 tahun sedang mencari pekerjaan dengan berharap mendapatkan penghasilan $50.000/tahun. Yang lebih buruk lagi, orang yang berumur 50 tahun ini hanya mempunyai sedikit atau tidak mempunyai uang sama sekali yang dapat disisihkan untuk pensiun dan mungkin tidak bisa pensiun. Orang berumur 50 tahun ini tidak memerlukan pekerjaan. Orang ini memerlukan cara untuk menjadi kaya dan memperoleh tingkat penghasilan yang terus-menerus sepanjang sisa hidupnya. Perusahaan pemasaran jaringan memberikan kesempatan ini dengan memberikan pendidikan, pembimbingan, dan sistem bisnis untuk membantu orang berumur 50 tahun ini membangun bisnis B-nya sendiri.

Pada tahun 2010, yang tidak terlalu lama lagi, orang pertama dari 75 juta baby-boomers (orang yang lahir pada masa ledakan bayi setelah PD II) di Amerika akan mencapai usia 65. Banyak yang akan masuk ke pemasaran jaringan sebagai cara untuk membangun jaminan seumur hidup yang tidak diberikan oleh pekerjaan mereka. Disamping itu, seseorang yang dengan sukses membangun bisnis pemasaran jaringan mempunyai potensi untuk masuk dalam peringkat ultrakaya di dunia… jauh lebih kaya dibanding para profesional yang berpendidikan tinggi seperti dokter, pengacara, insinyur…dan jauh lebih kaya dibanding banyak bintang olah raga, bintang film, dan bintang rock. Dengan semakin dekatnya tahun 2010, banyak orang yang sudah berada dalam bisnis pemasaran jaringan akan sangat beruntung ketika jutaan baby-boomer bergabung.


3. Portofolio pensiun pribadi akan dihapuskan
Belum pernah terjadi dalam sejarah dunia begitu banyak orang mempertaruhkan masa pensiunya pada pasar saham. Ini adalah resep bagi bencana finansial. Pada tahun 2010, juga ada kemungkinan kuat bahwa pasar saham AS akan kolaps, kalau tidak terjadi cepat. Kalau hal ini terjadi jutaan orang yang mengandalkan pasar saham dan sejenisnya tidak akan menikmati masa pensiun menyenangkan yang mereka impikan Kini, jutaan orang mencari jaminan finansial lainya, seperti membangun bisnis B yang dapat diberikan oleh bisnis pemasaran jaringan. (Prediksi Kiyosaki menjadi kenyataan, sebelum tahun 2010 pasar saham AS sudah kolaps dan memicu krisis ekonomi global terjadi sebelum menutup tahun 2008).

4. Lebih banyak orang akan sadar
Dengan semakin dekatnya tahun 2010, lebih banyak orang akan sadar bahwa Era Industri sudah berlalu dan aturan main sudah berubah untuk selama-lamanya. Pada tahun 1989, ketika tembok Berlin runtuh dan World Wide Web dibangun, aturan dunia berubah. Banyak sejarahwan menyatakan bahwa Era Industri sudah berakhir dan Era Informasi dimulai. Pada Era Industri, aturannya adalah anda bekerja keras dan perusahaan serta pemerintah akan mengurus anda. Pada Era Informasi, aturannya adalah anda akan mendapatkan yang terbaik dengan mengurus diri sendiri.

5. Kesadaran dunia
Pada tahun 2010, saat baby-boomer Amerika mengakhiri peningkatan pesat ekonomi, sekelompok lain baby-boomer akan menjadi sadar di Asia. Ketika akhir peningkatan ekonomi bergeser dari Amerika ke Asia, orang-orang di perusahaan pemasaran jaringan internasional akan berada dalam posisi bergerak mengikuti tren ini saat teman-teman dan para tentangga mereka takut diberhentikan dari pekerjaan. Dengan kata lain, di Era Informasi, orang yang bersaing mendapatkan pekerjaan anda mungkin tidak tinggal di kota atau di negara anda. Dalam Era Informasi orang yang mencari pekerjaan anda mungkin tinggal di Pakistan dan merasa senang dengan gaji $20 per hari, bukanya $20 per jam dengan tunjangan.

“Ketika orang mendapat banyak uang, mereka sering berpikir IQ mereka meningkat. Saat orang mendapat uang, mereka berpikir bahwa mereka lebih cerdas tetapi mereka mulai melakukan hal-hal yang bodoh. Bukannya IQ mereka meningkat, IQ mereka sebenarnya menurun dan kesombongan mereka naik dengan cepat.” Kalau anda melihat apa yang terjadi dengan pemenang undian atau bintang olahraga yang tiba-tiba mendapat banyak uang, anda akan mengetahui bahwa pernyataan ayah kaya saya memiliki validitas.

Berbicara tentang kesombongan vs kecerdasan. Dengan kata lain, banyak orang Amerika mabuk dan berpesta hingga jauh malam karena peningkatan pesat ekonomi ini. Saat saya menulis, kebocoran gelembung ekonomi mulai terlihat. Perusahaan-perusahaan dot com mulai kolaps dan investor saham yang melambung tinggi mulai mencari tempat berlindung pada saham yang lebih bernilai tradisional. Ketidakstabilan pasar saham saat ini sedang diamati amat cermat. Bila peningkatan pesat ini berakhir, banyak orang bijaksana dalam merencanakan masa depan akan mulai menyadari betapa pandainya mereka memasuki bisnis pemasaran jaringan sebelum peningkatan pesat berakhir.

6. Kebangkrutan mungkin tak pernah datang
Mungkin Sejarah tidak berulang sendiri. Mungkin kestabilan saat ini akan menjadi stabil dan peningkatan pesat ekonomi akan berlangsung selamanya. Mungkin orang-orang yang melihat kebijaksanaan bisnis pemasaran jaringan akan salah. Mungkin secara pribadi bertanggung jawab atas hidup dan kesejahteraan seseorang adalah salah. Mungkin mengharapkan pekerjaan anda, pemerintah, dan pasar saham yang akan menguras anda adalah hal yang benar untuk dilakukan. Mungkin cara terbaik untuk mendapatkan jaminan finansial adalah meminjam uang dan mempertaruhkan masa depan finansial anda pada pasar saham. Mungkin mempertaruhkan masa depan anda pada keberuntungan bukannya pendidikan yang terus-menerus adalah sesuatu yang pandai dilakukan…tetapi saya kira tidak.

Sebagai orang Amerika yang berpergian ke seluruh dunia, saya melihat persoalan dengan orang Amerika adalah bahwa kita cenderung untuk hidup dalam akuarium ikan. Dunia dapat melihat ke dalam tetapi banyak orang Amerika memilih untuk tidak melihat keluar. Dunia menonton acara TV Amerika. Tetapi berapa banyak di antara kita yang pernah menonton acara TV di India, Cina, atau Korea? Sangat banyak orang Amerika tidak melihat betapa cepatnya bagian dunia yang lain mengerti Ide Kapitalisme…bahkan orang Komunis sedang menjadi Kapitalis saat ini. Sangat banyak orang Amerika menjadi lemah, malas dan mengharapkan bahwa hidup dengan pekerjaan bergaji tinggi dan uang yang mudah diperoleh akan berlangsung terus…dan mudah-mudahan bagi mereka akan demikian…tetapi saya rasa tidak.

Sepanjang sejarah, kebangkrutan mengikuti semua peningkatan pesat. Berita itu mungkin berita buruk banyak orang. Namun itu juga menjadi berita baik bagi yang lain. Salah satu keunggulan beberapa bisnis pemasar jaringan adalah bahwa dunia adalah wilayah kita. Kalau anda mempunyai bisnis pemasaran jaringan internasional, kebangkrutan ekonomi bisa menjadi berita baik bagi anda sebagaimana halnya dengan peningkatan pesat ekonomi. Dan jika anda dapat melihat semua peningkatan dan semua kebangkrutan sebagai berita baik, itu adalah berita baik bagi jiwa anda dan bagi masa depan finansial anda.
Ini hanyalah beberapa alasan mengapa saya melihat masa depan industri pemasaran jaringan semakin cerah. ***



Berkah Herbal Banner 6