Rabu, 03 Agustus 2011

JIKALAH

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa, Sedang ketegran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa tidak dinikmati saja, sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa, Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.
Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa, Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya, Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti dikukuhi sendiri, Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia, Sedang denganya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama, Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti dirasakan sendiri, Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna.

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa kita isi dengan kesia-siaan belaka, Sedang begitu banyak kebaikan bisa diciptakan.

Suatu hari nanti, Saat semua telah menjadi masa lalu Aku ingin ada diantara mereka, Yang beralaskan di atas permadani. Sambil bercengkrama dengan tetangganya, Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu, Hingga mereka mendapat anugrah itu.

(Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang kuterima disini)-

(Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia)

Suatu hari nanti, Ketika semua telah menjadi masa lalu, Aku tak ingin ada diantara mereka, Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah, Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

(Duhai! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?)

Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua?)

(Sumber : motivasi.net)


Susu Kambing Higoat Pertama di Indonesia

Minggu, 24 Juli 2011

KISAH SANG TIKUS



Berkah Herbal Banner 9


Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan pikirnya? Dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan; “Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus di dalam rumah!”

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, “Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah.”

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, “Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!”, “Wah, aku menyesal dengar kabar ini,” si kambing menghibur dengan penuh simpati, “tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulaku kan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!”

Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. ” Oh? sebuah perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?” kata lembu itu sambil ketawa.

Jadi tikus itu kembalilah ke rumah, kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.

Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsanya. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit.

Dia kembali ke rumah dengan demam. Sudah menjadi kebiasaan setiap orang akan memberikan orang yg sakit demam panas minum sup ayam segar, jadi petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari bahan-bahan untuk supnya itu.

Penyakit isterinya berkelanjutan sehingga teman-teman dan tetangganya datang menjenguk, dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itupun menyembelih kambingnya untuk memberi makan para tamu itu.

Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Dia mati, jadi makin banyak lagi orang-orang yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat memberi makan para pelayat itu.

Moral kisah ini:

Apabila kamu dengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kamu pikir itu tidak ada kaitannya dengan kamu, ingatlah bahwa apabila ada ‘perangkap tikus’ di dalam rumah, seluruh ‘ladang pertanian’ ikut menanggung risikonya. Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan dari baiknya.

(Sumber : cerita motivasi)



Berkah Herbal Banner 6


Sabtu, 25 Juni 2011

Demi Bertemu Pacar, Menempuh Jalan Darat Beijing-Berlin 16.000 KM

Cinta memang bisa merubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin, sesuatu yang terasa berat untuk dilakukan bisa menjadi ringan. ya begitulah adanya cinta, sebagaimana lagu Celine Dion “Power of Love”. Beginilah yang telah terjadi di kehidupan anak manusia yang sedang kasmaran. Bak pepatah gunungpun kudaki samudra pun di seberangi.
Kisah sejati, perjalanan cinta sepanjang 16 ribu km untuk bertemu kekasih, Beijing- Berlin
Mereka berdua sedang menantikan tumpangan yang bersedia mengangkut ditepian jalan
Begitulah cinta yang dirasakan oleh Gu Yue yang berada di Beijing pada kekasihnya Ika yang berada di Berlin Jerman, beda negara beda benua. Maka perjalanan bak legenda jalur sutra pun dijalaninya untuk bisa berjumpa pujaan hatinya. Bersama dengan sahabatnya yang setia menemaninya yaitu Liu Chang maka perjalanan sepanjang kurang lebih 16.000 km itu meraka jalani berdua dengan jalan darat.
Kisah sejati, perjalanan cinta sepanjang 16 ribu km untuk bertemu kekasih, Beijing- Berlin
Sang pejuang cinta sedang menumpang sepeda motor barang roda 3 yang biasa di Indonesia dipakai untuk mengankut Air Mineral dan Gas elpiji
Coba saja kita bayangkan jarak dari Surabaya menuju Jakarta yang berjarak kurang lebih 700km bila kita tempuh dengan bus butuh waktu berjam jam, berangkat sore keesokan pagi sampai. Kalau 16.000 km maka perjalanan mereka setara dengan hampir 11 kali perjalanan Jakarta-Surabaya Pulang pergi dan ini bukan ditempuh dengan bus atau kereta cepat namun jalan kaki diselingi dengan numpang angkutan darat lainnya baik becak, traktor dan dokar atau kereta kuda juga beberapa jenis mobil lain seperti truk barang.

Kisah sejati, perjalanan cinta sepanjang 16 ribu km untuk bertemu kekasih, Beijing- Berlin
Selama 15 minggu (3 bulan setengah) mereka mengarungi benua Asia hingga Eropah lewat darat
Al hasil waktu tempuh mereka menghabiskan kurang lebih sekitar 3 setengan bulan atau sekitar 15 minggu. Wow sungguh luar biasa lama untuk sebuah perjalanan darat. Namun inilah pengorbanan untuk cinta. Cinta membuat semuanya tidak rasional dan menjadi sesuatu yang susah bisa mudah. Bayangkan sejauh 16 ribu km itu mereka mencatat mendapatkan tumpangan 88 kendaraan darat yang berkenan ditumpangi mereka berdua. Sedangkan yang menolak menolong ditumpangi lebih dari 1000 kendaraan darat.
Kisah sejati, perjalanan cinta sepanjang 16 ribu km untuk bertemu kekasih, Beijing- Berlin
Foto kenangan dengan seorang pengemudi mobil cantik yang bersedia memberikan tumpangan kepada mereka berdua
Mungkin semua yang telah dibuatnya untuk cinta tidak akan terlupakan disepanjang hayatnya. Harga yang sungguh mahal untuk sebuah pengorbanan. Mengutip berita yang diambil ruanghati.com dari kantor berita Xinhua menyebutkan pria kelahiran tahn 70-an ini hanya berbekan ransel yang didalammnya ada beberapa peralatan standar perjalanan serta komunikasi dan laptop ditambah kartu krdit yang mereka miliki.

Kisah sejati, perjalanan cinta sepanjang 16 ribu km untuk bertemu kekasih, Beijing- Berlin
Truk Coca Cola pun mereka tumpangi
Perjalanan panjang untuk sebuah cinta ini ditempuh dengan melewati 12 negara dengan kata lain mereka harus ribet sebelumnya mengurus VISA dan persyaratan kunjungan warga asing standar. Gu Yue sendiri pemegang passport Amerika sedangkan rekannya Chang pemegang Passport Cina. Gu sebelumnya adalah karyawan di perusahaan Amerika GE (General Electric) yang akhirnya ditinggalkan alias mengundurkan diri hanya untuk menjalani perjalanan cintanya ini. Sedangkan Chang merupakan penulis serta sutradara film dokumenter profesional yang berafiliasi dengan Discovery Channer Asia.
Selama perjalanan yang panjang ini banyak kisah dan pengalaman yang sangat menarik yang dialami keduanya seperti numpang truk barang, traktor hingga mendapat tumpangan modil yang dikemudikan gadis cantik. Pengalaman paling berkesan dan melelahkan yang mereka alami adalam menunggu kendaraan tumpangan yang bersedia mengangkut mereka hingga 2 hari dipinggir jalan, bayangkan.

Kisah sejati, perjalanan cinta sepanjang 16 ribu km untuk bertemu kekasih, Beijing- Berlin
Akhirnya Gu Yue berhasil menjumpai sang pacar Ika di Berlin
Beberapa negara yang mereka lewati antara lain Uzbekistan, Kirghizstan hingga Irak dan Turki sampai Eropa Timur. Sampai akhirnya pertemuan dengan kekasih tercinta pun terjadi di berlin, Anda bayangkan kira kira seperti apa haru dan bahagianya pertemuan tersebut. Sungguh romantis tentunya.
Sebesar apakah pengorbanan yang pernah Anda lakukan untuk orang yang Anda kasihi?
Tak kalah salut yang luar biasan kepada seorang sahabat yang mau menemani suka maupun duka dalam perjalanan yang begitu melelahkan demi melihat sang sahabat menjumpai kekasih hatinya seperti nilai persahabatan Liu Chang pada Gu Yue dan kekasihnya Ika
Seberapa sungguh Anda menilai sebuah persahabatan? Sebatas kepentingankah atau tulus dan ikhlas?
Perjalanan mereka yang sangat jauh ditempuh lewat darat sungguh melelahkan, namun untuk sebuah cinta tidak ada kata lelah
Perjalanan mereka yang sangat jauh ditempuh lewat darat sungguh melelahkan, namun untuk sebuah cinta tidak ada kata lelah
(Sumber : www.ruanghati.com)

Senin, 28 Februari 2011

GRATIS DAN LUNAS SEPANJANG MASA

Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:
  • Untuk memotong rumput Rp. 5000
  • Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
  • Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000
  • Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000
  • Untuk membuang sampah Rp. 1000
  • Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
  • Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
  • Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000

Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:

Untuk sembilan bulan ib
u mengandung kamu, gratis
Untuk se
mua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah
GRATIS

Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya.”Ibupun sayang kamu nak” kata sang ibu.

Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: “LUNAS”

(Disarikan dari MaPI No. 5. 2003)

Sabtu, 29 Januari 2011

HIU KECIL, ANCAMAN ATAUKAH PENYEMANGAT?


Peluang Bisnis Tiket Pesawat

Cerita berikut ini tentang nelayan Jepang yang sarat hikmah motivasi. Mudah-mudahan kita bisa belajar.

Masyarakat Jepang terkenal menyukai ikan segar. Namun selama beberapa dekade terakhir, semakin sulit mendapatkan ikan segar dan besar di perairan terdekat. Akibatnya, nelayan Jepang mulai membangun kapal besar sehingga bisa menuju ke laut lepas yang lebih jauh.

Namun, kenyataannya meskipun bisa menangkap lebih banyak ikan, perjalanan kembali ke daratan Jepang akhirnya memakan waktu yang lebih panjang. Saat tiba di daratan, ikan pun menjadi tidak segar lagi dan tidak diminati masyarakat.

Akhirnya, para nelayan Jepang menemukan cara lain yakni dengan membuat ruang atau bak pembeku ikan. Ikan-ikan yang tertangkap di laut, segera dimasukkan ke dalam ruangan pembeku ini. Namun, celakanya ternyata masyarakat Jepang bisa membedakan mana ikan segar dan mana ikan beku. Ikan beku pun tidak disukai di pasaran.

Maka, nelayan Jepang mulai mencari cara lain yakni membuat tangki besar berisi air laut untuk menampung ikan yang baru ditangkap dan dibiarkan hidup. Namun, lagi-lagi solusi ini bukan yang terbaik bahkan belum memecahkan masalah. Sebab ikan-ikan yang ditangkap dan hidup dalam tangki, setelah berminggu-minggu menjadi jarang bergerak, malas dan kurus. Sehingga saat ikan ini dijadikan santapan, rasanya berbeda dengan ikan yang segar alami. Masyarakat Jepang tetap tidak menyukai rasa ikan seperti ini.

Nelayan Jepang berfikir lebih keras lagi, untuk mencari solusi mendapatkan ikan segar seperti yang diminati masyarakat. Akhirnya didapatkan solusi terakhir. Yaitu tetap menggunakan tangki yang sama dan cara penampungan air laut yang sama pula. Namun di dalam tangki tersebut, Nelayan Jepang memasukkan beberapa IKAN HIU kecil yang hidup.

Ikan-ikan hiu kecil inilah yang kemudian mengejar ikan-ikan tangkapan tersebut, bahkan memakan beberapa ekor diantaranya. Ikan-ikan tangkapan dilanda kepanikan, terus-menerus bergerak, berlari menghindari serbuan hiu. Berhenti bergerak atau berusaha, alamat jadi korban kebuasan hiu.

APA HASILNYA?

Ketika sampai ke darat, ikan yang tertampung dalam tangki tetap segar dan diminati masyarakat Jepang, walaupun ikan tersebut telah ditangkap sekian hari sebelumnya.***

Sahabat...

Tanpa disadari, bahwa hidup ini sebenarnya penuh kompetisi alias persaingan. Dalam hal apa saja kita dihadapkan dengan persaingan, terlepas dari kita sukai atau tidak. Kadang kita membenci persaingan, karena untuk hal ini kita harus bergerak lebih cepat, lebih keras. Kita membenci persaingan karena tidak merasa siap, dilanda kemalasan, dininabobokan oleh lingkungan yang tidak memaksa kita berjuang.

Padahal justeru persaingan inilah yang membuat kita mengerti pentingnya kita hidup. Kompetitor atau sahabat pesaing kita, siapapun orangnya, dari pihak manapun latar belakangnya, baik kita kenal maupun tidak kita kenal-- mereka adalah HIU-HIU yang memompa motivasi kita. Kompetitor justeru harus "dipelihara" agar kita tetap siaga, tidak membiarkan diri lengah dan terlelap. Mengingat bahwa jika kita lengah, pada saat yang sama, pihak lain mengambil tempat yang kita sia-siakan.

Sahabat...

Tantangan, ancaman, rintangan, gangguan, atau apapun namanya... itulah HIU-HIU kecil yang dalam kehidupan kita. Bisakah kita anggap sebagai seni dalam dinamika kehidupan yang layak kita nikmati?

Atau bisa juga kita jadikan petaka abadi yang membuat kita hidup tidak nyaman?

KITA YANG MEMILIH, BUKAN ORANG LAIN...



Berkah Herbal Banner 9